Stem cell therapy atau terapi sel punca menjadi salah satu inovasi di bidang kedokteran regeneratif yang semakin banyak diperbincangkan di Indonesia.
Teknologi ini dipercaya memiliki potensi besar dalam membantu proses perbaikan jaringan tubuh, meningkatkan kualitas hidup, hingga mendukung penanganan berbagai kondisi kesehatan. Tidak heran jika terapi stem cell sering disebut sebagai salah satu bentuk pengobatan masa depan.
Dalam ajang Indonesia Wellness Tourism International Festival (IWTIF) 2024, Direktur Stem Cell dan Cancer Institute PT Kalbe sekaligus Presiden Direktur Pengembangan dan Pabrik Sel Punca Regenic PT Bifarma Adiluhung, dr. Sandy Q. Lintang, M.Biomed, menjelaskan berbagai fakta penting mengenai stem cell therapy, mulai dari cara kerjanya hingga bagaimana memilih terapi yang aman.
Apa Itu Stem Cell?
Stem cell atau sel punca merupakan sel induk yang memiliki kemampuan untuk memperbanyak diri dan berkembang menjadi berbagai jenis sel di dalam tubuh. Kemampuan inilah yang membuat stem cell berperan penting dalam proses regenerasi dan perbaikan jaringan yang mengalami kerusakan.
Secara alami, tubuh manusia memiliki stem cell yang akan bekerja ketika terjadi cedera, luka, infeksi, atau peradangan. Sel-sel ini membantu memperbaiki jaringan sehingga tubuh dapat kembali berfungsi dengan baik.
Bagaimana Cara Kerja Stem Cell Therapy?
Menurut dr. Sandy Q. Lintang, terapi stem cell merupakan terapi menggunakan sel hidup. Oleh karena itu, pemberiannya dilakukan melalui infus agar sel tetap hidup dan mampu bekerja secara optimal di dalam tubuh.
Stem cell bekerja melalui zat aktif yang dihasilkannya, yaitu secretome dan exosome, yang memiliki tiga fungsi utama:
- Membantu mengurangi peradangan (anti-inflamasi).
- Membantu menyeimbangkan sistem imun tubuh.
- Mendukung regenerasi atau pembentukan sel-sel baru untuk menggantikan sel yang rusak.
Melalui mekanisme tersebut, terapi stem cell diharapkan mampu membantu tubuh mempercepat proses pemulihan secara alami.
Mengapa Fungsi Stem Cell Menurun Seiring Bertambahnya Usia?
Seiring bertambahnya usia, jumlah dan kualitas stem cell alami dalam tubuh akan mengalami penurunan. Akibatnya, kemampuan tubuh untuk memperbaiki jaringan menjadi tidak sebaik saat masih muda.
Selain faktor usia, gaya hidup yang kurang sehat seperti kurang tidur, pola makan tidak seimbang, stres berkepanjangan, merokok, dan kurang berolahraga juga dapat mempercepat penurunan fungsi stem cell.
Karena itu, menjaga pola hidup sehat tetap menjadi langkah utama untuk mempertahankan kesehatan tubuh.
Hati-Hati Memilih Terapi Stem Cell
Tidak semua produk yang mengklaim sebagai stem cell benar-benar mengandung sel punca.
Menurut dr. Sandy, stem cell merupakan sel hidup, sehingga terapi yang benar diberikan melalui infus. Apabila ada produk berbentuk kapsul, tablet, bubuk, atau minuman yang mengklaim sebagai stem cell, maka produk tersebut bukan terapi stem cell.
Masyarakat juga perlu memperhatikan asal sumber stem cell yang digunakan.
Sumber stem cell yang dinilai lebih aman antara lain berasal dari:
- Jaringan lemak (adiposa).
- Sumsum tulang.
- Tali pusat bayi.
Sebaliknya, stem cell yang berasal dari embrio atau janin memiliki berbagai pertimbangan etika serta potensi risiko tertentu sehingga perlu diwaspadai.
Dr. Sandy juga mengingatkan masyarakat agar berhati-hati terhadap tawaran induced Pluripotent Stem Cells (iPSC) yang dijual secara bebas karena penggunaannya memerlukan pertimbangan ilmiah dan medis yang sangat ketat.
Selain itu, terapi stem cell yang berkualitas sebaiknya berasal dari industri farmasi yang memenuhi standar Cara Pembuatan Obat yang Baik (CPOB) serta telah memenuhi regulasi yang berlaku sehingga keamanan dan kualitas produknya lebih terjamin.
Stem Cell dengan Pendekatan Wellness di Etnaprana Wellness Clinic
Salah satu pendekatan yang menarik di Indonesia adalah perpaduan antara teknologi kedokteran regeneratif dengan konsep wellness holistik yang diterapkan di Etnaprana Wellness Clinic.
Konsep Etnaprana mengombinasikan terapi medis dengan berbagai pendekatan pendukung seperti aromaterapi, pijat (massage), serta perawatan relaksasi. Menurut dr. Sandy, kombinasi ini dapat membantu menciptakan kondisi tubuh yang lebih nyaman dan mengurangi stres, sehingga mendukung proses pemulihan secara menyeluruh.
Pendekatan wellness juga bertujuan membantu memperbaiki kualitas hidup melalui keseimbangan antara kesehatan fisik, mental, dan emosional.