Sejarah Lulur di Tanah Jawa

Sejarah Lulur di Tanah Jawa

Sejarah Lulur di Tanah Jawa

Lulur terbuat dari ramuan rempah-rempah lulur untuk menghaluskan kulit sudah di ketahui sejak dulu. Tradisi lulur sendiri sudah dilakukan oleh para putri raja di Pulau Jawa. Proses luluran diyakini sebagai metode terbaik dalam menjaga kesehatan dan kecantikan kulit. Putri raja biasanya melakukan lulur dua kali seminggu jika ingin malnagsungkan pernikahan, putri raja melakukan lulur setiap hari selama 40 hari berturut-turut. Pemakaian lulur dimulai dari kaki dengan pijat Bali lalu setelah itu dibalur dengan lulur tradisional dari Jawa.

Bahan yang dicampurkan pada lulur yakni beras, kacang-kacangan, akar kunyit, jahe, kayu manis, dan bubuk cendana yang di tumbuk. Setelah mencampurkan bahan tersebut kemudian ditambah dengan sedikit air dan beberapa tetes minyak bunga melati untuk membuat butiran menjadi halus. Saat sudah kering, ramuan tersebut digosokanlah pada kulit yang memiliki dampak untuk mengangkat sel kulit mati kemudian bilas menggunakan air hangat yag di ambil dengan batok kelapa.

Tahap akhir dari lulur adalah berendam di kolam yang terlah di taburi oleh wewangian separti bungan melati, tuberose, kamboja, kecapiring, dan kenanga. Di Kraton Jogja memiliki pemandian raja dan ratu yaitu Tamansari, sementara itu di Bali terdapat pemandian Tirta Gangga.

Adapun manfaat dari lulur adalah:
-Mengangkat sel kulit mati
-Meregenarasi kulit
-Membuat kulit menjadi lebih cerah dan tidak kusam
-Mengencangkan kulit tubuh
-Membuat kulit menjadi halus
-Memberi nutrisi dan kelembaban pada kulit tubuh

Gaya Spa Wellness merupakan spa ethnowellness yang memiliki berbagai macam massage. Yuk coba Spa dengan sensasi seperti raja dan ratu di Gaya Spa Wellness. Booking appointment mu sekarang.